Pertama Kali Ikut Europalia Arts Festival, Indonesia Sumbang ‘Saur Sepuh’

Pertama Kali Ikut Europalia Arts Festival, Indonesia Sumbang ‘Saur Sepuh’ – Europalia Arts Festival kembali di gelar di Belgia. Th. ini, sejak diselenggarakan pada 1969, buat pertama kalinya Indonesia dipilih jadi Guest Country atau negara tamu kehormatan di festival seni serta budaya internasional yang di adakan dalam dua tahunan (biennial) itu.

Indonesia jadi negara ke-8 yang dipilih jadi guest country di luar negara anggota UE (Uni Eropa) sesudah Jepang (1989) , Meksiko (1993) , Rusia (2005) , China (2009) , Brasil (2011) , India (2013) , Turki (2015) .

Festival Europalia sebagai kerjaan seni serta budaya yang miliki sifat multi-disipliner yang mementaskan musik, tarian, teater, film, seni pada masa ini, serta bentuk kesenian yang lain. Indonesia dipilih jadi Guest Country buat Festival Europalia 2017 sesuai sama ketetapan resmi yang di sampaikan surat General Manager Europalia International pada Menteri Pendidikan serta Kebudayaan RI tertanggal 21 Mei 2015.

Europalia Arts Festival Indonesia dapat di buka dengan cara resmi oleh Raja Belgia Philippe Leopold Louis Marie serta di hadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada Selasa (10/10/2017) .

Persiapan masak juga dijalankan tim Indonesia buat mendatangkan festival seni serta budaya paling baik di Eropa. Terlebih tidak cuman di Belgia, kerjaan Europalia juga di adakan di lebih dari satu negara Eropa tetangga seperti Belanda, Jerman, Inggris, serta Prancis.

Buat menghadirkan kekayaan seni serta budaya Indonesia, 486 pekerja seni dilibatkan. Mereka bikin 226 karya seni, 69 pertunjukkan tari serta teater, 71 musik, 36 sastra, 38 film serta 14 pameran.

Dari jejeran film yang dapat disiarkan di muka pemirsa Europalka Arts Festival, lebih dari satu salah satunya merupakan Sang Penari, A Copy of My Mind, Laskar Pelangi, Opera Jawa, 3 Doa 3 Cinta, Ziarah serta Saur Sepuh : Satria Madangkara.

Sedang buat pamerannya, dua pameran yang menarik merupakan pameran Ancestor serta Archipel. Dalam pameran Anrchiple, tim dari Indonesia mendatangkan perahu Padekawang yang di buat di Tana Beru Bulukumba. Buat area layarnya serta tali-tali tradisionalnya dilakukan di Mandar, Sulawesi Barat.

Sedang layarnya ditenun oleh wanita di Kampung Lanu Campalagian selanjutnya di buat oleh nelayan Pambusuang. Ada juga tali yang terbuat dari ijuk serta sabut kelapa yang dipintal di Lambe, Karama.

Sistem awal pembuatan perahu ini di awali sejak mulai April 2017. Sekurang-kurangnya ada sekitar 300 area perahu dengan keseluruhan berat 3, 8 ton. Perahu Padewakang punya ukuran 12 mtr., lebarnya tiga mtr., serta tingginya lebih dua mtr..

Perahu legendaris Padewakang ini jadi lambang perkembangan peradaban tehnologi kemaritiman Nusantara. Perahu itu dapat dipamerkan di museum La Boverie di Liege.

Pameran seterusnya merupakan Archipel. Pameran dengan tajuk ini dapat membawa pengunjung BOZAR di Brussels lewat histori Indonesia yang bergolak, dimulai dengan koloni Belanda serta periode kependudukan Jepang sampai waktu ini.

Lewat mata empat seniman masa ke 19 serta 20 pengunjung dapat di ajak memandang bagaimana seni lambat-laun menjadi berevolusi di Indonesia. Lewat karya seninya, seniman pada masa ini seperti Agung Kurniawan, Wendelien van Oldenborgh, Ana Torfs serta banyak yang lain dapat mengunggah bagaimana perdagangan, budaya, agama serta perang sama-sama perihal erat di Indonesia.

Dengan mendatangkan beraneka jenis seni serta budaya Tanah Air di Eropa ini diinginkan dapat jadi tambah menaikkan ketertarikan warga asing pada Indonesia. Oleh dikarenakan tersebut Kementerian Pariwisata menyongsong baik acara Europalia Arts Festival di mana Indonesia dipilih jadi negara tamu kehormatan buat pertamakalinya.

” Dari bagian pariwisata, kebudayaan sebagai salah satunya potensi serta kebolehan Indonesia jadi lokasi wisata, teristimewa wisatawan dari Eropa, yang pada semester setahun 2017 tumbuh positif, ” papar Nia Pasti, Asdep Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika serta Afrika Kementerian Pariwisata.